Piring dan Isi Kepala
Bagaimana percakapan-percakapan dalam kepala diceritakan?
Patutkah seorang istri berlapang dada dan berkilah jika semua kesibukan mengurus rumah adalah media penyembuhan dari kegilaan hubungan rumah tangga?
Mengapa seorang ibu sampai harus berkata pada anaknya yang buruk rupa bahwa, “fisik manusia tak boleh distandarkan oleh nilai-nilai yang diukur matematika!”
Piring dan Isi Kepala, dalam tujuh belas cerita pendek, Aris Risma Sunarmas mengajak pembaca kembali mengenali suara-suara dalam isi kepala manusia; mengungkap kemungkinan dan jawaban yang tak terduga.
| Author | : | ARIS RISMA SURNAMAS |
| Price | : | Rp 1 |
| Category | : | NOVELTY BOOKS |
| Page | : | 184 halaman |
| Format | : | Soft Cover |
| Size | : | 13 X 19 |
| ISBN | : | 0 |
| Publication | : |
Satu hal yang selalu kukenang dari istriku adalah namanya, Ruma. Bukan wajah atau suaranya. Ia memang cantik, sungguh. Suaranya imut, keluar dari bibirnya yang mungil. Dan aku telah menyukai dua hal itu, bahkan sejak pertama kali bertemu. Namun entah kenapa akhir-akhir ini aku lebih mengenang dirinya sebagai tujuan kepulanganku di akhir perjalanan. Rumah.
Namanya Rumaisa. Ibunya memanggilnya Isa. Sebutan kesayangan sejak ia brojol sampai usia sekarang tiga puluh lima. Diberikan oleh bapaknya, seminggu sebelum lelaki nahas itu hilang terseret ombak saat sedang melaut. Aku sendiri tak suka panggilan itu. Bukan karena Ruma sudah jadi yatim sekian lama, sehingga karenanya nama Isa akan dipelesetkan menjadi Isa bin Maryam (kukatakan itu padanya sambil becanda), tapi bagiku Ruma hanya diperuntukan untuk tujuan akhirku sendiri.
Rumah dan Ruma. Dua kata yang berdekatan. Dan, ia sendiri malah menyukai panggilan itu. Dalam keseharian, ia selalu memperkenalkan dirinya bernama Ruma. Mengganti kata “aku” dalam bicaranya menjadi Ruma.
Dan setiap kali panggilan itu kugaungkan dalam mulut, setiap kali pula aku selalu merasa ada tujuan hidup selain pekerjaan yang menyita separuh hidupku. Aku akan pulang ke rumah, menemui Ruma istriku. Kukira seperti rumah dan jiwanya, Ruma.
Lama-lama aku mulai membangun gambaran jika kepala Ruma adalah genting. Badannya tembok dengan jendela berkaca lebar. Dan kakinya adalah pondasi ceker ayam yang kokoh memaku tanah. Aku berlindung dari sengatan-sengatan kehidupan yang menjemukan. Dan Ruma melindungi jiwaku dari kehampaan. Ia benar-benar telah menjadi ruang aneh yang selama ini selalu kucari.
Dan setelah lima tahun menikah, rumah itu telah benar-benar kokoh. Kurasa aku telah memiliki segalanya.
Kecuali seorang anak.
RECOMMENDED FOR YOU Explore More